penapelatihan.id

Bimtek Pemerintah & ASN   •   Pelatihan BUMN & BUMD   •   Corporate Training & Industry   •   Academic, Research & Development   •   Program Kompetensi 2026   •  Pelatihan implementatif untuk kebutuhan organisasi dan pengembangan kompetensi  •  📱 0822-4551-1510   •  📧 info@penapelatihan.id   •   📍 Jakarta Selatan
Pelatihan Sustainability Reporting 2026: Menyusun Laporan Keberlanjutan Berbasis ESG untuk Memperkuat Transparansi, Kepatuhan, dan Akuntabilitas Perusahaan

Pelatihan Sustainability Reporting 2026: Menyusun Laporan Keberlanjutan Berbasis ESG untuk Memperkuat Transparansi, Kepatuhan, dan Akuntabilitas Perusahaan

Pelatihan Sustainability Reporting 2026: Menyusun Laporan Keberlanjutan Berbasis ESG untuk Memperkuat Transparansi, Kepatuhan, dan Akuntabilitas Perusahaan

Pelatihan Sustainability Reporting untuk Memperkuat Pelaporan ESG

Deskripsi Pelatihan Sustainability Reporting

Pelatihan Sustainability Reporting 2026 membantu perusahaan membangun proses penyusunan laporan keberlanjutan berbasis ESG yang dapat ditelusuri dari sumber informasi hingga menjadi laporan yang siap ditinjau oleh manajemen dan stakeholder. Kebutuhan ini semakin relevan ketika perusahaan harus menyatukan informasi lingkungan, sosial, tata kelola, serta kinerja bisnis dalam satu pelaporan yang konsisten.

Dalam praktiknya, penyusunan laporan keberlanjutan sering melibatkan banyak unit dengan format pencatatan dan tingkat kesiapan informasi yang berbeda. Tim penyusun dapat menghadapi revisi berulang ketika angka, narasi, sumber bukti, atau penanggung jawab informasi belum jelas sejak awal.

Persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menulis laporan. Perusahaan membutuhkan proses kerja yang mampu menetapkan kebutuhan informasi, mengoordinasikan pemilik informasi, melakukan validasi, mendokumentasikan sumber, dan memastikan setiap pengungkapan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pelatihan ini membahas penerapan Sustainability Reporting berbasis ESG dengan pendekatan yang menghubungkan kebutuhan pelaporan dengan proses kerja perusahaan. Pembahasan dapat mengacu pada framework dan standar pelaporan yang relevan dengan kebutuhan organisasi serta ketentuan yang berlaku.

Ruang Lingkup Pelatihan

Ruang lingkup mencakup proses penyusunan Sustainability Reporting dari penetapan tujuan pelaporan, pemetaan kebutuhan disclosure, identifikasi informasi yang diperlukan, pengumpulan input dari unit terkait, hingga penyusunan dan review laporan.

Peserta akan menggunakan konsep dan terminologi yang umum dalam praktik ESG dan sustainability reporting, termasuk material topics, stakeholder engagement, disclosure, ESG metrics, boundary pelaporan, serta keterlacakan informasi. Pembahasan framework seperti GRI Standards dan standar pengungkapan keberlanjutan yang relevan dapat disesuaikan dengan konteks organisasi.

Program relevan bagi fungsi Sustainability/ESG, Corporate Secretary, Finance, Risk Management, Compliance, Legal, HSE, HR, Operations, Procurement, Investor Relations, Internal Audit, serta unit lain yang menjadi pemilik atau penyedia informasi untuk pelaporan.

Tantangan Kerja & Akar Penyebab

Tim penyusun laporan sering menerima informasi dari banyak unit dengan format, periode, definisi, dan tingkat kelengkapan yang tidak seragam. Akibatnya, proses konsolidasi membutuhkan klarifikasi dan revisi berulang sebelum informasi dapat digunakan.

Salah satu akar masalahnya adalah belum adanya pembagian ownership yang cukup jelas untuk setiap disclosure dan metrik ESG. Ketika pemilik informasi tidak mengetahui kebutuhan pelaporan secara spesifik, tim pusat harus melakukan pengejaran informasi secara manual.

Tantangan lain muncul ketika proses penyusunan laporan dimulai terlalu dekat dengan periode publikasi. Tim kemudian lebih banyak bekerja sebagai pengumpul dan penyunting informasi daripada mengendalikan kualitas input sejak awal siklus pelaporan.

Perbedaan pemahaman mengenai definisi metrik, batas pelaporan, periode pengukuran, dan bukti pendukung juga dapat membuat satu informasi ditafsirkan berbeda oleh unit yang berbeda. Kondisi ini membuat proses review membutuhkan waktu lebih panjang.

Akar penyebab tersebut umumnya berkaitan dengan workflow pelaporan yang belum terstruktur dan kompetensi lintas fungsi yang belum memiliki pemahaman bersama mengenai kebutuhan Sustainability Reporting berbasis ESG.

Risiko Jika Tidak Ditangani

  • Kepatuhan & Governance: informasi yang tidak konsisten atau tidak memiliki dasar pendukung dapat meningkatkan risiko ketidaksesuaian terhadap ketentuan pelaporan dan kebijakan internal yang berlaku.
  • Kualitas Keputusan: informasi keberlanjutan yang tidak lengkap dapat membatasi kemampuan manajemen melihat kondisi ESG sebagai bagian dari pertimbangan bisnis.
  • Reputasi & Kepercayaan Stakeholder: ketidakkonsistenan antara pengungkapan dan bukti pendukung dapat memengaruhi kepercayaan stakeholder terhadap kualitas informasi yang disampaikan perusahaan.
  • Produktivitas & Efisiensi Biaya: proses konsolidasi dan revisi berulang dapat meningkatkan beban kerja serta penggunaan waktu lintas unit selama periode pelaporan.
  • Keberlanjutan Operasional: ketergantungan pada individu tertentu dalam memahami sumber informasi dan proses pelaporan dapat meningkatkan risiko ketika terjadi rotasi personel.

Perubahan Lingkungan Kerja dan Kebutuhan Kompetensi Sustainability Reporting

Praktik Sustainability Reporting terus berkembang dari pelaporan keberlanjutan yang berfokus pada penyampaian informasi menuju pengungkapan yang semakin terstruktur, dapat dibandingkan, dan relevan bagi stakeholder. Perkembangan standar seperti GRI Standards serta hadirnya IFRS Sustainability Disclosure Standards melalui IFRS S1 dan IFRS S2 menunjukkan meningkatnya kebutuhan perusahaan untuk memahami berbagai pendekatan pelaporan yang digunakan di lingkungan bisnis global.

Perubahan tersebut turut memengaruhi cara perusahaan mengelola proses pelaporan. Kebutuhan informasi yang semakin terstruktur membuat fungsi-fungsi terkait perlu menyesuaikan cara bekerja, memperjelas keterhubungan antarperan, dan mengikuti perkembangan standar profesional tanpa melepaskan konteks bisnis perusahaan. Dengan organisasi yang semakin kompleks, pendekatan pelaporan juga tidak lagi cukup bergantung pada pemahaman individu atau praktik periode sebelumnya.

Kondisi ini menuntut penguatan kompetensi agar individu dan tim mampu beradaptasi dengan perkembangan praktik Sustainability Reporting, memahami perubahan ekspektasi pelaporan, serta menjaga konsistensi penerapannya dalam lingkungan kerja yang terus berkembang. Kesiapan tersebut menjadi dasar bagi organisasi untuk membangun kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan pelaporan saat ini dan perubahan yang akan datang.

Hasil yang Diharapkan Organisasi

  • Perusahaan memiliki alur kerja Sustainability Reporting yang lebih jelas dari pengumpulan input hingga final review.
  • Ownership informasi ESG lebih mudah ditelusuri berdasarkan fungsi dan unit kerja yang bertanggung jawab.
  • Informasi yang masuk ke proses penyusunan laporan memiliki sumber, periode, definisi, dan bukti pendukung yang lebih jelas.
  • Proses review dapat dilakukan berdasarkan kriteria yang lebih konsisten sehingga titik revisi lebih mudah diidentifikasi.
  • Organisasi memiliki dasar untuk membangun siklus pelaporan yang dapat dimonitor dan diperbaiki pada periode berikutnya.

Tujuan & Kompetensi yang Dikembangkan

  • Memetakan tujuan bisnis dan kebutuhan stakeholder ke dalam kebutuhan Sustainability Reporting berbasis ESG.
  • Mengidentifikasi material topics yang relevan dengan konteks dan aktivitas perusahaan.
  • Menentukan kebutuhan disclosure dan ESG metrics berdasarkan framework atau standar pelaporan yang digunakan organisasi.
  • Menetapkan sumber informasi, pemilik informasi, periode pengukuran, serta batas pelaporan untuk setiap kebutuhan pengungkapan.
  • Memeriksa kelengkapan dan konsistensi input sebelum digunakan dalam penyusunan laporan.
  • Melakukan validasi terhadap angka, narasi, definisi metrik, dan supporting evidence yang digunakan dalam laporan.
  • Menyusun informasi ESG menjadi disclosure yang memiliki keterkaitan antara indikator, kinerja, konteks, dan bukti pendukung.
  • Menyusun reporting matrix untuk menelusuri kebutuhan disclosure, sumber informasi, PIC, dan status pemenuhan.
  • Melakukan review terhadap konsistensi informasi antarbagian laporan dan antarperiode pelaporan.
  • Mengidentifikasi gap informasi dan menyusun rekomendasi tindak lanjut kepada pemilik proses terkait.
  • Menyusun workflow review dan approval yang sesuai dengan struktur governance perusahaan.
  • Menetapkan mekanisme monitoring dan perbaikan proses pelaporan untuk siklus berikutnya.

Manfaat Pelatihan

  • Peserta lebih mudah memahami posisi dan tanggung jawab unitnya dalam keseluruhan proses Sustainability Reporting.
  • Tim penyusun memiliki acuan kerja yang lebih jelas saat meminta informasi kepada unit lain.
  • PIC dapat mengetahui informasi dan bukti pendukung yang perlu disiapkan sebelum proses konsolidasi.
  • Peserta dapat menggunakan reporting matrix untuk memantau status pemenuhan kebutuhan disclosure.
  • Proses pengecekan angka dan narasi menjadi lebih terarah berdasarkan sumber dan definisi yang digunakan.
  • Unit penyedia informasi memiliki pemahaman yang lebih seragam mengenai kebutuhan pelaporan ESG.
  • Peserta dapat mengidentifikasi gap informasi sebelum masuk ke tahap finalisasi laporan.
  • Koordinasi antara fungsi Sustainability/ESG dengan Finance, Operations, HR, Risk, Compliance, dan unit terkait menjadi lebih terstruktur.
  • Tim memperoleh pendekatan praktis untuk mendokumentasikan proses review dan approval.
  • Peserta memiliki dasar untuk menyusun action plan perbaikan workflow pelaporan di unit masing-masing.

Sasaran Peserta & Unit Kerja

Pelatihan ditujukan bagi personel yang terlibat sebagai penyusun, pemilik informasi, reviewer, pemberi rekomendasi, maupun pengarah proses Sustainability Reporting. Komposisi peserta dapat berasal dari fungsi ESG/Sustainability dan fungsi pendukung yang menyediakan atau memverifikasi informasi pelaporan.

Level/Fungsi PesertaPeran dalam Implementasi
Manager/Kepala Fungsi Sustainability, ESG, Corporate Secretary atau fungsi terkaitPengarah proses, menetapkan prioritas pelaporan, mengoordinasikan kebutuhan lintas fungsi, serta memastikan hasil kerja selaras dengan governance perusahaan.
Supervisor/Koordinator Sustainability ReportingPelaksana koordinasi workflow, mengelola reporting matrix, memantau pemenuhan input, dan mengoordinasikan proses review.
Staf ESG/Sustainability, Finance, Risk, Compliance, HSE, HR, Operations, Procurement, dan fungsi terkaitPelaksana pengumpulan, pemeriksaan, validasi, dan dokumentasi informasi sesuai ownership masing-masing.
Internal Audit, Legal, Compliance, Risk atau Reviewer terkaitPemberi rekomendasi melalui review atas konsistensi, governance, supporting evidence, dan kesesuaian proses dengan ketentuan internal maupun eksternal yang relevan.

Materi Pelatihan

Fondasi Pelaporan & Kebutuhan Bisnis

  • Memetakan tujuan Sustainability Reporting terhadap kebutuhan manajemen dan stakeholder perusahaan.
  • Mengidentifikasi stakeholder dan kebutuhan informasi yang perlu diperhatikan dalam proses pelaporan.
  • Menentukan material topics berdasarkan konteks kegiatan, dampak, dan prioritas organisasi.
  • Memetakan framework atau standar ESG yang relevan dengan kebutuhan pelaporan perusahaan.
  • Menentukan kebutuhan disclosure dan ESG metrics yang akan digunakan dalam proses pelaporan.

Pengelolaan Input & Validasi Informasi ESG

  • Memetakan sumber informasi dan unit pemilik setiap disclosure atau metrik.
  • Menetapkan periode pengukuran, boundary, definisi, dan basis pengumpulan informasi.
  • Menyusun reporting matrix untuk menghubungkan disclosure, PIC, sumber, status, dan supporting evidence.
  • Memeriksa kelengkapan informasi sebelum masuk ke proses konsolidasi.
  • Memvalidasi konsistensi angka, narasi, satuan, definisi, dan bukti pendukung.
  • Menangani gap, inkonsistensi, atau informasi yang belum dapat diverifikasi melalui mekanisme klarifikasi lintas fungsi.

Penyusunan, Review & Governance Laporan

  • Mengolah input terverifikasi menjadi disclosure yang sesuai dengan kebutuhan pelaporan.
  • Menghubungkan ESG metrics dengan konteks kinerja dan penjelasan yang diperlukan dalam laporan.
  • Melakukan cross-check informasi antarbagian untuk mengurangi inkonsistensi isi.
  • Menyusun alur review dan approval sesuai governance perusahaan.
  • Mendokumentasikan perubahan, klarifikasi, dan keputusan selama proses penyusunan.
  • Menyiapkan rekomendasi perbaikan ketika terdapat gap pada informasi atau proses pelaporan.

Implementasi & Continuous Improvement

  • Menyusun action plan penerapan workflow Sustainability Reporting pada unit kerja.
  • Menetapkan titik monitoring untuk memantau kesiapan input dan progres penyusunan laporan.
  • Mengevaluasi penyebab revisi berulang dan hambatan pada siklus pelaporan sebelumnya.
  • Menyusun prioritas perbaikan proses untuk periode pelaporan berikutnya.

Metode Pelatihan & Implementasi Kerja

  1. Metode Pembelajaran: workshop berbasis workflow Sustainability Reporting, studi kasus ESG, latihan penyusunan reporting matrix, simulasi validasi informasi, serta diskusi atas kondisi kerja peserta.
  2. Asesmen/Verifikasi Kompetensi: peserta mengerjakan latihan pemetaan disclosure, pemeriksaan input, validasi supporting evidence, dan penyusunan rekomendasi berdasarkan studi kasus atau contoh kerja.
  3. Implementasi Kerja: peserta menerjemahkan hasil latihan menjadi draft workflow, pembagian ownership, atau action plan yang dapat disesuaikan dengan proses pelaporan di organisasinya.
  4. Verifikasi Implementasi: hasil kerja ditinjau berdasarkan keterlacakan informasi, kejelasan PIC, konsistensi proses, serta kesesuaian dengan kebutuhan pelaporan organisasi.

Skema Pelaksanaan Program

KomponenIsi
Pendekatan PembelajaranWorkshop berbasis workflow Sustainability Reporting, studi kasus ESG, latihan reporting matrix, validasi informasi, dan diskusi implementasi lintas fungsi.
Output yang Dibawa Pulang PesertaDraft reporting matrix, pemetaan ownership informasi, checklist validasi input, serta action plan perbaikan workflow pelaporan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.
Adaptasi MateriMateri dapat disesuaikan dengan framework pelaporan, proses bisnis, struktur governance, tingkat kematangan ESG, dan kebutuhan informasi organisasi peserta.
Durasi[DURASI — mis. 2 hari / 16 JP]
Mode Pelaksanaan[MODE — offline / online / hybrid]
Jumlah Peserta[JUMLAH PESERTA — mis. maks. 25 orang/kelas]
Lokasi[LOKASI — kota/venue pelaksanaan]
Fasilitas[FASILITAS — modul, sertifikat, konsumsi, dll]
Investasi[HARGA / hubungi tim kami untuk penawaran]
Jalur Pelaksanaan / Tindak LanjutOrganisasi dapat menghubungi tim penyelenggara untuk membahas kebutuhan peserta, menyesuaikan fokus materi dengan workflow Sustainability Reporting yang berjalan, menentukan jadwal, dan menyepakati bentuk pelaksanaan program.

FAQ Sustainability Reporting Berbasis ESG

Apa itu Sustainability Reporting?

Sustainability Reporting adalah proses penyusunan dan pengungkapan informasi mengenai kinerja serta dampak keberlanjutan perusahaan kepada stakeholder. Pelaporan dapat mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola sesuai framework atau standar yang digunakan organisasi.

Mengapa Sustainability Reporting penting bagi perusahaan?

Sustainability Reporting membantu perusahaan menyampaikan informasi keberlanjutan secara lebih terstruktur dan dapat ditelusuri. Informasi tersebut dapat digunakan oleh stakeholder untuk memahami aspek ESG yang relevan dengan perusahaan.

Apa hubungan Sustainability Reporting dengan ESG?

Sustainability Reporting menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan aspek Environmental, Social, dan Governance. Cakupan dan bentuk pengungkapannya bergantung pada framework, standar, dan kebutuhan pelaporan yang digunakan.

Apa perbedaan Sustainability Reporting dengan laporan keuangan?

Sustainability Reporting berfokus pada informasi keberlanjutan dan pengungkapan ESG, sedangkan laporan keuangan terutama menyajikan informasi mengenai kondisi dan kinerja keuangan perusahaan. Keduanya dapat saling melengkapi dalam memberikan gambaran mengenai perusahaan.

Siapa yang bertanggung jawab menyusun Sustainability Report?

Penyusunan Sustainability Report biasanya melibatkan fungsi lintas unit dengan satu fungsi atau tim yang mengoordinasikan keseluruhan proses. Unit lain berperan sebagai pemilik, penyedia, atau pemeriksa informasi sesuai kebutuhan disclosure.

Apakah Sustainability Reporting hanya menjadi tanggung jawab tim ESG?

Tidak, Sustainability Reporting umumnya membutuhkan kontribusi lintas fungsi karena informasi ESG berasal dari berbagai proses bisnis. Tim ESG atau koordinator pelaporan membutuhkan dukungan unit seperti Finance, HR, Operations, HSE, Procurement, Risk, Compliance, dan fungsi terkait.

Bagaimana cara memastikan data ESG yang digunakan dalam laporan dapat dipertanggungjawabkan?

Informasi ESG perlu memiliki sumber, definisi, periode pengukuran, pemilik informasi, serta bukti pendukung yang jelas. Proses validasi dan dokumentasi membantu meningkatkan keterlacakan informasi sebelum dipublikasikan.

Apa yang dimaksud dengan material topics dalam Sustainability Reporting?

Material topics adalah topik keberlanjutan yang dipandang relevan untuk menjadi bagian penting dalam pengungkapan berdasarkan konteks dan pendekatan materialitas yang digunakan. Penentuannya perlu mengikuti framework atau standar pelaporan yang diterapkan organisasi.

Apakah Sustainability Reporting harus menggunakan GRI Standards?

Penggunaan GRI Standards bergantung pada kebutuhan dan pendekatan pelaporan organisasi. Perusahaan perlu menentukan framework atau standar yang sesuai dengan kewajiban, stakeholder, karakter bisnis, dan tujuan pengungkapannya.

Bagaimana Sustainability Reporting diterapkan pada BUMN atau perusahaan besar dengan banyak unit?

Penerapannya membutuhkan pembagian ownership informasi dan workflow konsolidasi yang jelas antarunit. Reporting matrix dapat digunakan untuk menghubungkan kebutuhan disclosure dengan sumber informasi, PIC, bukti pendukung, dan status pemenuhannya.

Bagaimana pelatihan ini membantu tim yang masih menggunakan proses manual?

Pelatihan membantu tim memetakan bagian workflow yang masih bergantung pada pengumpulan dan pengecekan manual. Dari pemetaan tersebut, peserta dapat menentukan perbaikan proses secara bertahap sesuai kapasitas dan sistem yang tersedia.

Apakah materi dapat disesuaikan dengan proses Sustainability Reporting perusahaan?

Ya, materi dapat disesuaikan dengan proses bisnis, struktur fungsi, framework pelaporan, serta tingkat kesiapan organisasi peserta. Penyesuaian dapat diarahkan pada workflow dan contoh kerja yang paling relevan dengan kebutuhan perusahaan.

Bagaimana HR atau L&D menentukan peserta yang tepat?

Peserta ideal berasal dari fungsi yang menyusun, menyediakan, memvalidasi, mereview, atau mengarahkan informasi untuk Sustainability Reporting. Komposisi lintas fungsi membantu membangun pemahaman yang sama mengenai ownership dan alur kerja pelaporan.

Apa yang sebaiknya disiapkan perusahaan sebelum mengikuti pelatihan?

Perusahaan dapat menyiapkan contoh workflow pelaporan, pembagian PIC, contoh disclosure, serta permasalahan yang muncul pada siklus sebelumnya. Bahan tersebut dapat digunakan sebagai konteks latihan tanpa harus mengubah proses bisnis yang sedang berjalan.

FAQ Sustainability Reporting Berbasis ESG

Apa itu Sustainability Reporting?

Sustainability Reporting adalah proses penyusunan dan pengungkapan informasi mengenai kinerja serta dampak keberlanjutan perusahaan kepada stakeholder. Pelaporan dapat mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola sesuai framework atau standar yang digunakan organisasi.

Mengapa Sustainability Reporting penting bagi perusahaan?

Sustainability Reporting membantu perusahaan menyampaikan informasi keberlanjutan secara lebih terstruktur dan dapat ditelusuri. Informasi tersebut dapat digunakan oleh stakeholder untuk memahami aspek ESG yang relevan dengan perusahaan.

Apa hubungan Sustainability Reporting dengan ESG?

Sustainability Reporting menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan aspek Environmental, Social, dan Governance. Cakupan dan bentuk pengungkapannya bergantung pada framework, standar, dan kebutuhan pelaporan yang digunakan.

Apa perbedaan Sustainability Reporting dengan laporan keuangan?

Sustainability Reporting berfokus pada informasi keberlanjutan dan pengungkapan ESG, sedangkan laporan keuangan terutama menyajikan informasi mengenai kondisi dan kinerja keuangan perusahaan. Keduanya dapat saling melengkapi dalam memberikan gambaran mengenai perusahaan.

Siapa yang bertanggung jawab menyusun Sustainability Report?

Penyusunan Sustainability Report biasanya melibatkan fungsi lintas unit dengan satu fungsi atau tim yang mengoordinasikan keseluruhan proses. Unit lain berperan sebagai pemilik, penyedia, atau pemeriksa informasi sesuai kebutuhan disclosure.

Apakah Sustainability Reporting hanya menjadi tanggung jawab tim ESG?

Tidak, Sustainability Reporting umumnya membutuhkan kontribusi lintas fungsi karena informasi ESG berasal dari berbagai proses bisnis. Tim ESG atau koordinator pelaporan membutuhkan dukungan unit seperti Finance, HR, Operations, HSE, Procurement, Risk, Compliance, dan fungsi terkait.

Bagaimana cara memastikan data ESG yang digunakan dalam laporan dapat dipertanggungjawabkan?

Informasi ESG perlu memiliki sumber, definisi, periode pengukuran, pemilik informasi, serta bukti pendukung yang jelas. Proses validasi dan dokumentasi membantu meningkatkan keterlacakan informasi sebelum dipublikasikan.

Apa yang dimaksud dengan material topics dalam Sustainability Reporting?

Material topics adalah topik keberlanjutan yang dipandang relevan untuk menjadi bagian penting dalam pengungkapan berdasarkan konteks dan pendekatan materialitas yang digunakan. Penentuannya perlu mengikuti framework atau standar pelaporan yang diterapkan organisasi.

Apakah Sustainability Reporting harus menggunakan GRI Standards?

Penggunaan GRI Standards bergantung pada kebutuhan dan pendekatan pelaporan organisasi. Perusahaan perlu menentukan framework atau standar yang sesuai dengan kewajiban, stakeholder, karakter bisnis, dan tujuan pengungkapannya.

Bagaimana Sustainability Reporting diterapkan pada BUMN atau perusahaan besar dengan banyak unit?

Penerapannya membutuhkan pembagian ownership informasi dan workflow konsolidasi yang jelas antarunit. Reporting matrix dapat digunakan untuk menghubungkan kebutuhan disclosure dengan sumber informasi, PIC, bukti pendukung, dan status pemenuhannya.

Bagaimana pelatihan ini membantu tim yang masih menggunakan proses manual?

Pelatihan membantu tim memetakan bagian workflow yang masih bergantung pada pengumpulan dan pengecekan manual. Dari pemetaan tersebut, peserta dapat menentukan perbaikan proses secara bertahap sesuai kapasitas dan sistem yang tersedia.

Apakah materi dapat disesuaikan dengan proses Sustainability Reporting perusahaan?

Ya, materi dapat disesuaikan dengan proses bisnis, struktur fungsi, framework pelaporan, serta tingkat kesiapan organisasi peserta. Penyesuaian dapat diarahkan pada workflow dan contoh kerja yang paling relevan dengan kebutuhan perusahaan.

Bagaimana HR atau L&D menentukan peserta yang tepat?

Peserta ideal berasal dari fungsi yang menyusun, menyediakan, memvalidasi, mereview, atau mengarahkan informasi untuk Sustainability Reporting. Komposisi lintas fungsi membantu membangun pemahaman yang sama mengenai ownership dan alur kerja pelaporan.

Apa yang sebaiknya disiapkan perusahaan sebelum mengikuti pelatihan?

Perusahaan dapat menyiapkan contoh workflow pelaporan, pembagian PIC, contoh disclosure, serta permasalahan yang muncul pada siklus sebelumnya. Bahan tersebut dapat digunakan sebagai konteks latihan tanpa harus mengubah proses bisnis yang sedang berjalan.

Daftar Kota Pelaksanaan

Program Pelatihan Sustainability Reporting 2026: Menyusun Laporan Keberlanjutan Berbasis ESG untuk Memperkuat Transparansi, Kepatuhan, dan Akuntabilitas Perusahaan dapat diselenggarakan sebagai public training, in house training, corporate training, executive workshop, maupun program pengembangan kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Pelaksanaan dapat diterapkan pada perusahaan swasta, BUMN, BUMD, holding company, anak perusahaan, grup usaha, maupun organisasi industri dengan struktur dan kebutuhan pelaporan keberlanjutan yang berbeda.

Pelaksanaan diarahkan pada proses kerja Sustainability Reporting yang melibatkan pengumpulan informasi dari berbagai fungsi, penentuan sumber dan pemilik data, pemeriksaan kelengkapan, validasi angka maupun narasi, penyusunan disclosure, hingga review sebelum laporan digunakan atau dipublikasikan. Pendekatan ini membantu peserta memahami keterkaitan antara kebutuhan pengungkapan dengan aktivitas kerja unit yang menjadi sumber informasi.

  • Jakarta
  • Bandung
  • Surabaya
  • Semarang
  • Yogyakarta
  • Malang
  • Medan
  • Makassar
  • Denpasar
  • Lombok
  • Palembang
  • Balikpapan
  • Batam
  • Samarinda
  • Manado
  • Pekanbaru

Mengapa Pelatihan Ini Penting bagi Organisasi?

Sustainability Reporting semakin membutuhkan informasi yang tidak hanya tersedia, tetapi juga memiliki konteks, definisi, periode pengukuran, sumber, pemilik informasi, dan bukti pendukung yang jelas. Bagi organisasi dengan banyak fungsi atau unit kerja, kebutuhan tersebut membuat proses pelaporan perlu dikelola sebagai alur kerja lintas fungsi, bukan sekadar aktivitas penyusunan dokumen pada akhir periode.

Dalam praktiknya, informasi untuk disclosure dapat berasal dari Finance, HR, Operations, HSE, Procurement, Risk, Compliance, maupun fungsi lainnya. Perbedaan cara pencatatan, periode data, definisi indikator, format dokumen, dan pemahaman atas kebutuhan disclosure dapat membuat proses konsolidasi memerlukan pemeriksaan dan klarifikasi berulang sebelum informasi siap digunakan dalam laporan.

Program ini membantu peserta menghubungkan kebutuhan Sustainability Reporting dengan pekerjaan unit masing-masing melalui pemetaan reporting matrix, ownership informasi, sumber data, bukti pendukung, serta tahapan review. Peserta juga diarahkan untuk memahami bagaimana informasi ESG diperiksa dari sisi kelengkapan dan konsistensi sebelum masuk ke tahap penyusunan disclosure dan proses persetujuan internal.

Dengan proses yang lebih terstruktur, organisasi memiliki dasar kerja yang lebih jelas untuk mengelola siklus pelaporan berikutnya. Hasilnya dapat berupa pembagian tanggung jawab yang lebih terarah, dokumentasi informasi yang lebih mudah ditelusuri, proses review yang lebih konsisten, serta dasar yang lebih kuat untuk mengidentifikasi gap dan melakukan perbaikan pada siklus Sustainability Reporting selanjutnya.

Akses Informasi Program

  • 📄 Ajukan Proposal Pelatihan — Konsultasikan kebutuhan public training, in house training, corporate training, executive workshop, maupun program Sustainability Reporting yang disesuaikan dengan proses pelaporan organisasi.
  • 📅 Lihat Jadwal & Biaya Pelatihan — Informasi jadwal pelaksanaan, pilihan kota, metode pembelajaran, serta skema pelaksanaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
  • 📚 Jelajahi Program Pelatihan — Temukan berbagai program pelatihan di bidang ESG dan keberlanjutan, governance, risk, compliance, manajemen, kepemimpinan, SDM, keuangan, audit, transformasi digital, teknologi informasi, supply chain, project management, quality management, HSE, procurement, customer service, operasional, dan berbagai kompetensi profesional lainnya.
  • 🛡️ Kredibilitas Penyelenggara — PENA didukung instruktur bersertifikasi BNSP, akademisi, dan praktisi berpengalaman lintas sektor pemerintahan, BUMN, dan korporasi.

📌 Untuk informasi program, konsultasi kebutuhan Sustainability Reporting, permintaan proposal, maupun pelaksanaan in house training, silakan menghubungi tim kami.

✉️ Email: info@penapelatihan.id

📞 WhatsApp/Telp: 0822-4551-1510

Program ini diarahkan untuk membantu organisasi membangun proses Sustainability Reporting yang lebih terhubung dengan aktivitas kerja setiap fungsi, mulai dari penyediaan informasi hingga review disclosure. Dengan alur yang terdokumentasi dan ownership yang lebih jelas, proses pelaporan dapat lebih mudah ditelusuri, dikaji kembali, dan dikembangkan mengikuti kebutuhan organisasi serta perkembangan praktik pelaporan keberlanjutan.

 


Penapelatihan.id mendukung pengembangan kompetensi profesional, peningkatan kualitas SDM, penguatan tata kelola, transformasi bisnis, optimalisasi proses kerja, serta peningkatan kinerja organisasi di berbagai sektor industri di Indonesia

 

Scroll to Top