Pelatihan Liquidity Risk Management 2026: Mengelola Risiko Likuiditas untuk Menjaga Stabilitas Pendanaan dan Operasional Bank
Pelatihan Liquidity Risk Management untuk Penguatan Pengendalian Risiko Likuiditas Bank
Deskripsi Pelatihan Liquidity Risk Management 2026
Pelatihan Liquidity Risk Management 2026: Mengelola Risiko Likuiditas untuk Menjaga Stabilitas Pendanaan dan Operasional Bank dirancang untuk membantu fungsi terkait memahami dan mengendalikan kondisi ketika bank tidak memiliki kecukupan likuiditas untuk memenuhi kewajiban saat jatuh tempo tanpa menimbulkan biaya atau kerugian yang tidak semestinya. Topik ini berkaitan langsung dengan pengelolaan funding, cash flow, aset likuid, kewajiban, dan kesiapan menghadapi perubahan kondisi pasar.
Dalam praktiknya, tekanan likuiditas tidak selalu muncul karena satu keputusan yang keliru. Perubahan perilaku deposan, konsentrasi sumber pendanaan, jatuh tempo kewajiban, kebutuhan pencairan kredit, kondisi pasar, maupun perubahan kualitas aset dapat membuat kebutuhan dana bergerak lebih cepat daripada rencana sebelumnya.
Kesulitan sering muncul ketika informasi dari treasury, risk management, finance, bisnis, dan unit terkait belum membentuk gambaran yang sama mengenai posisi dan kebutuhan likuiditas. Perbedaan waktu pelaporan, asumsi arus kas, klasifikasi sumber dana, atau mekanisme eskalasi dapat memperlambat respons ketika kondisi mulai berubah.
Pelatihan ini menempatkan Liquidity Risk Management sebagai bagian dari proses kerja yang perlu terhubung dengan pengukuran, limit, liquidity buffer, contingency planning, pengawasan, dan pengambilan keputusan. Pendekatan pembelajaran diarahkan pada penerapan yang dapat disesuaikan dengan operating model dan tata kelola masing-masing organisasi.
Ruang Lingkup Pelatihan
Ruang lingkup pelatihan mencakup pengelolaan risiko likuiditas dari pemahaman kebutuhan pendanaan hingga pemantauan dan respons terhadap perubahan kondisi. Pembahasan mencakup hubungan antara posisi aset dan kewajiban, cash flow, sumber pendanaan, liquidity buffer, concentration risk, serta kemampuan organisasi memenuhi kewajiban sesuai jatuh tempo.
Peserta akan bekerja dengan konsep dan praktik seperti cash flow forecasting, maturity profile, funding structure, liquidity gap, limit framework, early warning indicators, stress testing, contingency funding plan, dan liquidity risk reporting. Istilah teknis tersebut digunakan dalam konteks pekerjaan agar peserta dapat menghubungkannya dengan proses treasury, risk management, finance, dan bisnis.
Program juga membahas bagaimana hasil pengukuran dan stress scenario digunakan sebagai dasar rekomendasi, eskalasi, serta penyesuaian tindakan. Fokusnya bukan membangun teori keuangan secara terpisah, tetapi memahami bagaimana mekanisme pengendalian dapat digunakan dalam operating model bank.
Materi relevan bagi level manajerial hingga pelaksana yang terlibat dalam treasury, liquidity risk, risk management, finance, ALM, funding, business unit, internal control, maupun fungsi lain yang membutuhkan pemahaman terhadap posisi pendanaan dan eksposur likuiditas.
Tantangan Kerja & Akar Penyebab
Posisi likuiditas dapat berubah karena transaksi masuk dan keluar tidak bergerak sesuai proyeksi awal. Ketika asumsi arus kas tidak diperbarui secara konsisten, perbedaan antara rencana pendanaan dan kebutuhan aktual dapat baru terlihat setelah tekanan mulai meningkat.
Salah satu akar masalahnya adalah proses forecasting yang belum cukup terhubung dengan informasi dari unit bisnis. Perubahan pipeline kredit, perilaku nasabah, jatuh tempo funding, kebutuhan collateral, atau transaksi treasury dapat masuk ke perhitungan dengan jeda waktu yang berbeda.
Tantangan lain muncul ketika sumber pendanaan dinilai secara terpisah tanpa melihat konsentrasi dan karakteristik masing-masing. Ketergantungan pada kelompok deposan, instrumen, tenor, atau counterparty tertentu dapat membuat fleksibilitas pendanaan lebih rendah ketika kondisi pasar berubah.
Perbedaan asumsi antarunit juga dapat menghasilkan interpretasi yang tidak seragam terhadap liquidity gap, limit, dan kondisi peringatan. Dalam situasi seperti ini, proses eskalasi dapat bergantung pada klarifikasi manual sebelum tindakan dapat diputuskan.
Akar persoalan tersebut bukan hanya berada pada kemampuan menghitung posisi, tetapi juga pada konsistensi proses, kualitas input, ownership, governance, dan kejelasan trigger untuk melakukan tindakan ketika kondisi bergerak keluar dari ekspektasi.
Risiko Jika Tidak Ditangani
- Keberlanjutan operasional: ketidaksiapan memenuhi kewajiban pada waktunya dapat meningkatkan tekanan terhadap kemampuan bank menjalankan aktivitas operasional dan memenuhi kebutuhan transaksi.
- Kualitas keputusan: proyeksi yang tidak mencerminkan kondisi aktual dapat membuat keputusan pendanaan, penempatan aset likuid, atau penggunaan sumber dana dilakukan dengan informasi yang kurang memadai.
- Biaya pendanaan: kebutuhan memperoleh dana dalam kondisi tertekan berpotensi meningkatkan funding cost dan mengurangi fleksibilitas dalam mengelola struktur pendanaan.
- Kepatuhan dan governance: kelemahan dalam limit monitoring, pelaporan, eskalasi, dan dokumentasi dapat meningkatkan risiko ketidaksesuaian terhadap kebijakan internal maupun ketentuan yang berlaku.
- Kepercayaan stakeholder: tekanan likuiditas yang tidak dikelola secara memadai dapat memengaruhi kepercayaan deposan, investor, counterparty, dan stakeholder lainnya terhadap ketahanan keuangan bank.
Perubahan Lingkungan Kerja dan Kebutuhan Kompetensi Liquidity Risk Management
Kerangka pengelolaan risiko likuiditas perbankan terus berkembang seiring penguatan standar prudensial, pengawasan, dan praktik manajemen risiko. Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) menempatkan pengelolaan likuiditas dalam kerangka yang mencakup liquidity risk tolerance, kecukupan aset likuid, pengukuran risiko, stress testing, serta contingency funding plan. BCBS Liquidity Risk Management and Supervision menjadi salah satu rujukan utama untuk memahami perkembangan tersebut.
Perubahan tersebut membuat pengelolaan likuiditas tidak lagi cukup dipandang sebagai fungsi yang berdiri sendiri. Struktur pendanaan, kondisi pasar, aktivitas bisnis, kebutuhan likuiditas, dan tuntutan pengawasan semakin perlu dipahami dalam satu kerangka kerja yang saling terhubung, sehingga cara tim berkoordinasi dan menjalankan proses pengelolaan risiko perlu terus disesuaikan.
Perubahan lingkungan tersebut pada akhirnya menuntut individu dan tim untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan standar profesional, kompleksitas aktivitas perbankan, serta perubahan ekspektasi pengawasan. Penguatan kompetensi menjadi bagian penting agar penerapan kerangka pengelolaan risiko tetap konsisten ketika kondisi dan kebutuhan organisasi berkembang.
Hasil yang Diharapkan Organisasi
- Organisasi memiliki proses pengelolaan posisi likuiditas yang lebih konsisten antara kebutuhan bisnis, treasury, finance, dan risk management.
- Perubahan kondisi pendanaan dapat dikenali melalui indikator dan mekanisme monitoring yang memiliki ownership serta jalur eskalasi yang jelas.
- Manajemen memperoleh dasar yang lebih terstruktur untuk menilai kebutuhan pendanaan dan opsi respons terhadap perubahan kondisi likuiditas.
- Penggunaan liquidity buffer, limit, dan contingency funding arrangement dapat dievaluasi berdasarkan kondisi serta skenario yang relevan dengan operating model bank.
- Kapabilitas tim dalam mengelola risiko likuiditas dapat diperkuat melalui workflow yang terdokumentasi dan dapat dievaluasi secara berkala.
Tujuan & Kompetensi yang Dikembangkan
- Mengidentifikasi sumber dan karakteristik risiko likuiditas yang relevan dengan aktivitas perbankan.
- Menyusun dan membaca cash flow forecasting berdasarkan karakteristik arus kas masuk dan keluar.
- Menganalisis maturity profile aset dan kewajiban untuk mengenali potensi liquidity gap.
- Menilai struktur pendanaan berdasarkan tenor, stabilitas, konsentrasi, dan karakteristik sumber dana.
- Mengevaluasi kecukupan liquidity buffer terhadap kebutuhan likuiditas dan skenario tekanan.
- Menggunakan limit framework dan indikator peringatan untuk memantau eksposur risiko likuiditas.
- Menganalisis dampak perubahan asumsi terhadap proyeksi kebutuhan pendanaan melalui stress testing.
- Mengidentifikasi kondisi yang memerlukan eskalasi berdasarkan trigger dan early warning indicators.
- Menyusun rekomendasi respons terhadap perubahan posisi pendanaan dan eksposur likuiditas.
- Mengintegrasikan hasil analisis likuiditas ke dalam proses koordinasi antara treasury, risk management, finance, ALM, dan unit bisnis.
- Menilai kesiapan contingency funding plan melalui skenario dan mekanisme respons yang relevan.
- Menyusun informasi risiko likuiditas untuk mendukung monitoring, reporting, dan pengambilan keputusan manajemen.
Manfaat Pelatihan
- Peserta lebih mudah membaca hubungan antara arus kas, struktur pendanaan, aset likuid, dan kewajiban.
- Peserta memperoleh kerangka kerja untuk menilai potensi tekanan likuiditas sebelum masuk ke kondisi yang lebih sulit dikendalikan.
- Tim treasury dan risk management memiliki pendekatan yang lebih terstruktur untuk menyusun dan meninjau proyeksi kebutuhan dana.
- Peserta dapat menelusuri sumber perubahan liquidity gap berdasarkan informasi yang tersedia dari unit terkait.
- Peserta dapat menggunakan stress scenario untuk menguji ketahanan posisi pendanaan terhadap perubahan asumsi.
- Unit kerja memiliki dasar yang lebih jelas dalam menentukan informasi yang perlu dikumpulkan dan divalidasi sebelum melakukan assessment.
- Koordinasi antara fungsi bisnis, treasury, finance, ALM, dan risk management menjadi lebih mudah diarahkan pada kebutuhan keputusan yang sama.
- Peserta dapat memahami kapan suatu kondisi perlu dimonitor lebih ketat atau dieskalasikan sesuai governance yang berlaku.
- Tim dapat menyusun bahan reporting yang lebih relevan untuk kebutuhan monitoring dan review manajemen.
- Peserta memiliki dasar untuk meninjau kembali contingency funding arrangement sesuai karakteristik risiko organisasi.
- Unit kerja lebih siap melakukan review berkala terhadap asumsi, limit, trigger, dan mekanisme respons yang digunakan.
Sasaran Peserta & Unit Kerja
Pelatihan ini ditujukan bagi personel yang terlibat dalam pengelolaan pendanaan, treasury, liquidity risk, ALM, finance, risk management, bisnis, internal control, dan fungsi pendukung terkait. Komposisi peserta dapat mencakup pihak yang menjalankan proses teknis sekaligus pihak yang mengarahkan, memberikan rekomendasi, atau mengambil keputusan atas respons risiko likuiditas.
| Level/Fungsi Peserta | Peran dalam Implementasi |
|---|---|
| Manajemen / Kepala Fungsi Treasury, ALM, Risk Management, atau Finance | Pengarah dan pengambil keputusan dalam menetapkan prioritas, mengevaluasi kondisi pendanaan, menentukan eskalasi, serta memastikan respons tetap selaras dengan risk appetite dan governance organisasi. |
| Manager / Supervisor Treasury, Liquidity Risk, ALM, Risk Management, Finance | Pengarah dan pemberi rekomendasi yang mengoordinasikan review posisi likuiditas, memvalidasi hasil assessment, dan menerjemahkan temuan menjadi opsi tindak lanjut. |
| Analyst / Officer Treasury, Liquidity Risk, Risk Management, Finance, ALM | Peserta dan pelaksana yang menjalankan forecasting, pengolahan informasi, monitoring limit, stress testing, reporting, dan dokumentasi sesuai proses kerja organisasi. |
| Fungsi Bisnis dan Unit Pendukung Terkait | Peserta dan pemberi input yang menyediakan informasi aktivitas bisnis, kebutuhan pendanaan, perubahan pipeline, serta kondisi lain yang dapat memengaruhi proyeksi likuiditas. |
Materi Pelatihan
Fondasi Pengelolaan Pendanaan dan Kebutuhan Likuiditas
- Memetakan business objective pengelolaan likuiditas berdasarkan kebutuhan operasional dan karakteristik aktivitas bank.
- Mengidentifikasi kebutuhan kerja yang perlu dijawab melalui liquidity risk assessment, termasuk kemampuan memenuhi kewajiban sesuai jatuh tempo.
- Menetapkan indikator dan parameter yang digunakan untuk menilai kondisi likuiditas, termasuk limit dan early warning indicators.
- Memetakan sumber input dari transaksi, posisi aset dan kewajiban, funding, aktivitas bisnis, treasury, serta informasi relevan lainnya.
- Menilai kualitas dan konsistensi input yang digunakan dalam cash flow forecasting dan assessment posisi likuiditas.
Assessment, Forecasting, dan Stress Testing
- Menyusun cash flow forecasting dengan mempertimbangkan karakteristik arus kas masuk dan keluar.
- Menganalisis maturity profile dan mengidentifikasi potensi liquidity gap berdasarkan horizon waktu yang relevan.
- Menilai struktur dan konsentrasi sumber pendanaan berdasarkan tenor, karakteristik, dan stabilitasnya.
- Mengevaluasi kecukupan liquidity buffer terhadap kebutuhan likuiditas dan perubahan kondisi.
- Menguji sensitivitas posisi likuiditas melalui stress testing dengan skenario yang relevan terhadap karakteristik bank.
- Menginterpretasikan hasil assessment untuk membedakan kondisi normal, kondisi yang memerlukan perhatian, dan kondisi yang membutuhkan eskalasi.
Keputusan, Respons, dan Contingency Funding
- Menyusun rekomendasi berdasarkan hasil assessment, perubahan asumsi, dan tingkat eksposur yang teridentifikasi.
- Menentukan opsi respons pendanaan dengan mempertimbangkan kebutuhan likuiditas, biaya, fleksibilitas, dan governance yang berlaku.
- Menetapkan mekanisme eskalasi ketika limit atau early warning indicators menunjukkan perubahan kondisi yang material.
- Meninjau kesiapan contingency funding plan berdasarkan skenario tekanan dan sumber pendanaan alternatif yang tersedia.
- Menyusun bahan reporting yang menghubungkan kondisi aktual, hasil assessment, rekomendasi, dan keputusan yang diperlukan.
Implementasi, Monitoring, dan Continuous Improvement
- Mengintegrasikan hasil assessment ke dalam koordinasi rutin antara treasury, ALM, risk management, finance, dan unit bisnis.
- Menetapkan mekanisme review terhadap asumsi forecasting, limit, indikator peringatan, dan kualitas informasi yang digunakan.
- Menelusuri perbedaan antara proyeksi dan kondisi aktual sebagai dasar perbaikan proses dan asumsi.
- Mendokumentasikan hasil review, keputusan, dan tindak lanjut agar proses dapat ditelusuri pada siklus berikutnya.
Metode Pelatihan & Implementasi Kerja
- Metode Pembelajaran: workshop berbasis workflow pengelolaan likuiditas, studi kasus perbankan, latihan membaca posisi pendanaan, cash flow forecasting, liquidity gap, stress scenario, dan diskusi implementasi lintas fungsi.
- Asesmen/Verifikasi Kompetensi: peserta mengerjakan latihan assessment dan studi kasus untuk menunjukkan kemampuan mengidentifikasi eksposur, membaca hasil pengukuran, menyusun rekomendasi, dan menentukan kebutuhan eskalasi.
- Implementasi Kerja: peserta menerjemahkan hasil pembelajaran menjadi action plan yang dapat digunakan untuk review proses forecasting, monitoring, reporting, limit, atau contingency funding sesuai peran dan kondisi organisasi.
- Review Implementasi: hasil latihan dapat digunakan sebagai bahan diskusi antara peserta dan atasan/fungsi terkait untuk menentukan prioritas perbaikan yang realistis diterapkan pada workflow yang sudah berjalan.
Skema Pelaksanaan Program
| Komponen | Rincian |
|---|---|
| Pendekatan Pembelajaran | Workshop berbasis kasus dan workflow Liquidity Risk Management dengan latihan forecasting, assessment, stress testing, review limit, penyusunan rekomendasi, serta simulasi eskalasi sesuai konteks pekerjaan peserta. |
| Output yang Dibawa Pulang Peserta | Action plan implementasi, checklist review proses likuiditas, serta kerangka tindak lanjut yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan treasury, risk management, ALM, finance, dan unit terkait. |
| Adaptasi Materi | Materi dapat disesuaikan dengan operating model, struktur fungsi, karakteristik pendanaan, workflow reporting, dan kebutuhan pengendalian risiko yang berlaku di organisasi peserta. |
| Durasi | [DURASI — mis. 2 hari / 16 JP] |
| Mode Pelaksanaan | [MODE — offline / online / hybrid] |
| Jumlah Peserta | [JUMLAH PESERTA — mis. maks. 25 orang/kelas] |
| Lokasi | [LOKASI — kota/venue pelaksanaan] |
| Fasilitas | [FASILITAS — modul, sertifikat, konsumsi, dll] |
| Investasi | [HARGA / hubungi tim kami untuk penawaran] |
| Jalur Pelaksanaan / Tindak Lanjut | Organisasi dapat menghubungi tim penyelenggara untuk membahas kebutuhan peserta, menyesuaikan studi kasus dan materi dengan workflow internal, menentukan jadwal pelaksanaan, serta menyusun kebutuhan implementasi setelah program selesai. |
FAQ Liquidity Risk Management
Apa itu Liquidity Risk Management?
Liquidity Risk Management adalah proses untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko ketidakmampuan bank memenuhi kewajiban saat jatuh tempo tanpa menimbulkan kerugian atau biaya yang tidak semestinya. Penerapannya mencakup pengelolaan arus kas, sumber pendanaan, aset likuid, limit, stress testing, dan contingency planning.
Mengapa Liquidity Risk Management penting bagi bank?
Liquidity Risk Management penting karena bank harus mampu memenuhi kewajiban dan kebutuhan transaksi meskipun kondisi pendanaan berubah. Pengelolaan yang memadai membantu manajemen mengenali tekanan pendanaan dan menyiapkan respons berdasarkan kondisi yang terukur.
Apa perbedaan liquidity risk dengan solvency risk?
Liquidity risk berkaitan dengan kemampuan memenuhi kewajiban ketika jatuh tempo, sedangkan solvency risk berkaitan dengan kemampuan mempertahankan kondisi keuangan ketika nilai aset dan kewajiban diperhitungkan secara keseluruhan. Keduanya berbeda, tetapi dapat saling berkaitan dalam pengelolaan risiko bank.
Apa yang dipelajari dalam cash flow forecasting untuk risiko likuiditas?
Cash flow forecasting digunakan untuk memperkirakan arus kas masuk dan keluar dalam horizon tertentu sebagai dasar menilai kebutuhan likuiditas. Pelatihan membahas bagaimana asumsi, sumber input, perubahan aktivitas bisnis, dan hasil aktual dapat digunakan dalam proses tersebut.
Bagaimana liquidity gap digunakan dalam pengelolaan risiko?
Liquidity gap membantu menunjukkan perbedaan antara kebutuhan dan ketersediaan dana pada periode tertentu. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengenali potensi tekanan pendanaan dan menentukan kebutuhan tindak lanjut.
Apa fungsi liquidity buffer dalam Liquidity Risk Management?
Liquidity buffer berfungsi sebagai sumber likuiditas yang tersedia untuk membantu bank menghadapi kebutuhan dana atau tekanan likuiditas. Kecukupannya perlu dinilai sesuai karakteristik kewajiban, profil risiko, dan skenario yang relevan.
Mengapa stress testing diperlukan dalam pengelolaan risiko likuiditas?
Stress testing digunakan untuk melihat bagaimana posisi likuiditas dapat berubah ketika asumsi normal mengalami tekanan. Hasilnya dapat membantu organisasi menilai ketahanan pendanaan dan kebutuhan respons pada kondisi yang lebih berat.
Apa hubungan Liquidity Risk Management dengan Asset Liability Management?
Liquidity Risk Management dan Asset Liability Management saling berkaitan karena keduanya memperhatikan hubungan antara struktur aset, kewajiban, pendanaan, tenor, dan kebutuhan likuiditas. Dalam praktiknya, koordinasi kedua fungsi membantu menjaga agar keputusan terkait aset dan funding tidak berjalan sendiri-sendiri.
Siapa yang perlu mengikuti pelatihan Liquidity Risk Management?
Pelatihan relevan bagi personel treasury, ALM, liquidity risk, risk management, finance, funding, serta fungsi bisnis dan pendukung yang memengaruhi atau menggunakan informasi likuiditas. Level manajerial maupun analis dapat mengikuti program dengan penekanan aktivitas yang disesuaikan dengan perannya.
Apakah Liquidity Risk Management hanya menjadi tanggung jawab Treasury?
Tidak. Treasury memiliki peran penting dalam pengelolaan pendanaan dan likuiditas, tetapi kondisi likuiditas juga dipengaruhi oleh aktivitas bisnis, risk management, finance, ALM, dan fungsi terkait lainnya. Karena itu, mekanisme koordinasi dan ownership perlu disesuaikan dengan governance organisasi.
Bagaimana pelatihan ini membantu tim menghadapi perubahan kondisi pendanaan?
Pelatihan membantu tim menggunakan assessment, indikator, stress scenario, dan mekanisme eskalasi sebagai bagian dari workflow pengelolaan likuiditas. Fokusnya adalah memperjelas proses dari pengenalan kondisi hingga penyusunan rekomendasi dan tindak lanjut.
Apakah materi dapat diterapkan pada bank dengan operating model yang berbeda?
Ya. Kerangka Liquidity Risk Management dapat disesuaikan dengan struktur fungsi, karakteristik pendanaan, proses reporting, dan governance masing-masing bank. Penyesuaian terutama dilakukan pada contoh kasus, workflow, serta kebutuhan implementasi.
Bagaimana organisasi dapat mengevaluasi hasil penerapan pelatihan?
Hasil penerapan dapat dievaluasi melalui bukti seperti konsistensi forecasting, ketepatan review terhadap posisi likuiditas, kualitas reporting, dokumentasi eskalasi, hasil stress testing, dan tindak lanjut atas temuan review. Indikator evaluasi perlu disesuaikan dengan proses dan governance internal organisasi.
Apakah pelatihan ini hanya membahas aspek teknis perhitungan likuiditas?
Tidak. Selain aspek teknis, pelatihan menghubungkan assessment dengan workflow, governance, koordinasi lintas fungsi, rekomendasi, eskalasi, dan implementasi kerja. Dengan pendekatan tersebut, peserta dapat melihat bagaimana hasil pengukuran digunakan dalam proses pengelolaan risiko sehari-hari.
Daftar Kota Pelaksanaan
Program “Pelatihan Liquidity Risk Management 2026: Mengelola Risiko Likuiditas untuk Menjaga Stabilitas Pendanaan dan Operasional Bank“ dapat diselenggarakan di berbagai kota dengan skema public training, in house training, corporate training, maupun executive workshop. Pelaksanaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan bank, BUMN, BUMD, perusahaan pembiayaan, lembaga keuangan, holding, anak perusahaan, maupun organisasi yang memiliki fungsi treasury, finance, risk management, ALM, atau pengelolaan pendanaan.
Konteks pembelajaran dapat diarahkan pada kondisi operasional peserta, terutama ketika organisasi perlu memantau posisi likuiditas, memperkirakan kebutuhan dana, membaca pola arus kas masuk dan keluar, mengidentifikasi potensi mismatch antara aset dan kewajiban, serta menyiapkan respons ketika terjadi tekanan likuiditas. Dengan demikian, pembahasan dapat lebih mudah dikaitkan dengan proses monitoring, pelaporan, koordinasi antara treasury dan risk management, serta pengambilan keputusan pendanaan dalam pekerjaan sehari-hari.
- Jakarta
- Bandung
- Surabaya
- Semarang
- Yogyakarta
- Malang
- Medan
- Makassar
- Denpasar
- Lombok
- Palembang
- Balikpapan
- Batam
- Samarinda
- Manado
- Pekanbaru
Mengapa Pelatihan Ini Penting bagi Organisasi?
Dalam operasional bank, kondisi likuiditas dapat berubah ketika pola penghimpunan dana, penyaluran kredit, kebutuhan pembayaran, arus dana nasabah, dan akses terhadap sumber pendanaan bergerak tidak sesuai dengan perkiraan. Masalahnya bukan hanya ketika dana benar-benar tidak tersedia, tetapi juga ketika organisasi terlambat mengenali tekanan sehingga keputusan pendanaan harus dilakukan secara terburu-buru dan dengan ruang pilihan yang semakin terbatas.
Kondisi tersebut membuat pemantauan posisi likuiditas perlu dilakukan dengan melihat hubungan antara kebutuhan dana dan ketersediaan sumber dana berdasarkan waktu. Perbedaan jatuh tempo aset dan kewajiban, konsentrasi sumber pendanaan, perubahan perilaku nasabah, arus kas yang tidak sesuai proyeksi, serta keterbatasan aset likuid dapat menghasilkan tekanan yang tidak selalu terlihat apabila monitoring hanya berfokus pada posisi kas saat ini.
Melalui pelatihan ini, peserta diarahkan untuk menghubungkan data posisi likuiditas dengan kebutuhan keputusan di lapangan. Pembahasan dapat digunakan untuk menilai kebutuhan dana berdasarkan proyeksi arus kas, membaca potensi liquidity gap, memantau indikator likuiditas, mengevaluasi ketergantungan pada sumber pendanaan tertentu, serta mengenali kondisi yang memerlukan eskalasi kepada pihak yang berwenang.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kesiapan organisasi menghadapi kondisi likuiditas yang berubah cepat. Peserta dapat memahami bagaimana hasil monitoring digunakan untuk menentukan tindakan, mulai dari penyesuaian posisi likuiditas, pengelolaan sumber pendanaan, penguatan buffer likuiditas, sampai penerapan langkah dalam contingency funding plan ketika terjadi tekanan yang lebih besar. Dengan alur tersebut, fungsi liquidity risk management tidak berhenti sebagai aktivitas pelaporan, tetapi menjadi bagian dari mekanisme pengendalian risiko dan pengambilan keputusan pendanaan.
Bagi organisasi, penerapan yang konsisten membantu memperjelas siapa yang memantau indikator, bagaimana informasi dikonsolidasikan, kapan suatu kondisi perlu ditindaklanjuti, dan bagaimana keputusan pendanaan didokumentasikan. Hasil akhirnya adalah proses pengelolaan likuiditas yang lebih terukur, lebih responsif terhadap perubahan arus dana, serta lebih siap digunakan ketika organisasi menghadapi kebutuhan pendanaan yang meningkat atau kondisi pasar yang berubah.
Akses Informasi Program
- 📄 Ajukan Proposal Pelatihan — Konsultasikan kebutuhan program Liquidity Risk Management untuk public training, in house training, corporate training, maupun executive workshop sesuai fungsi treasury, finance, risk management, dan ALM.
- 📅 Lihat Jadwal & Biaya Pelatihan — Dapatkan informasi jadwal, pilihan kota, metode pelaksanaan, serta skema pelatihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta dan organisasi.
- 📚 Jelajahi Program Pelatihan — Temukan program lain yang berkaitan dengan finance, treasury, risk management, audit, governance, compliance, perbankan, digital transformation, dan pengembangan kompetensi profesional.
- 🛡️ Kredibilitas Penyelenggara — PENA didukung instruktur dari kalangan praktisi dan akademisi dengan pengalaman pada berbagai bidang profesional dan organisasi.
📌 Untuk informasi program, konsultasi kebutuhan pelatihan, permintaan proposal, maupun pelaksanaan in house training, silakan menghubungi tim kami.
✉️ Email: info@penapelatihan.id
📞 WhatsApp/Telp: 0822-4551-1510
Program ini diharapkan membantu peserta menerjemahkan informasi likuiditas menjadi dasar tindakan yang lebih jelas, memperbaiki ketepatan pemantauan kebutuhan dana, mempercepat identifikasi potensi tekanan likuiditas, memperkuat koordinasi antara fungsi terkait, serta meningkatkan kesiapan organisasi dalam menjaga kecukupan dana untuk memenuhi kewajiban dan mendukung kelangsungan operasional bank.

Penapelatihan.id mendukung pengembangan kompetensi profesional, peningkatan kualitas SDM, penguatan tata kelola, transformasi bisnis, optimalisasi proses kerja, serta peningkatan kinerja organisasi di berbagai sektor industri di Indonesia



